![]() |
| Sumber: NBC News |
Selasa (10/2) malam, langit Jakarta dihiasi awan mendung bahkan langit mengguyur Jakarta di sore harinya. Fenomena purnama Perige atau yang biasa disebut dengan Supermoon pun tidak bisa terlihat jelas dengan mata telanjang.
Melansir pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bulan akan berada di perige (titik terdekat bulan ke Bumi dalam orbit bulanannya) dalam jarak 363.300 kilometer mulai pukul 16.02 WIB. Fase purnama disebut akan mencapai puncak pukul 22.53 WIB dan bisa diamati di seluruh langit Indonesia.
Pantauan dari Akurat.co di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, nyatanya tidak tampak adanya masyarakat yang melakukan pengamatan fenomena Supermoon. Langit yang mendung tertutup awan tebal membuat fenomena Supermoon di Jakarta tidak terlihat sempurna pada waktu yang diprediksi.
Bahkan, sekitar pukul 23.17 WIB, bulan telah benar-benar tertutup awan hingga tidak tampak sinarnya. TIM sendiri diketahui merupakan lokasi yang biasa dijadikan tempat pengamatan warga Jakarta setiap munculnya fenomena antariksa.
Pihak Planetarium di TIM biasanya menyediakan teleskop khusus sebagai alat pengamatan cuma-cuma, seperti saat gerhana bulan total yang terjadi pada 28 Juli 2018 lalu. Namun, tidak untuk Supermoon kali ini berhubung cuaca yang tidak mendukung.
BMKG sendiri sempat mengajak masyarakat yang tidak memiliki teleskop untuk melihat fenomena Supermoon melalui siaran langsung chanel Youtube InfoBMKG. Sama seperti di TIM, pengamatan BMKG yang diketahui dilakukan di Kemayoran, Jakarta Pusat itu juga hanya menampilkan kondisi langit yang serba hitam.
Tampak kekecewaan warganet yang berkomentar pada chanel tersebut lantaran Supermoon yang ditunggu tidak tampak.
"Suram item doang" kata Elvia NS.
"Itu bulannya kehalang kopi" kelakar warganet lain bernama Nati Nati.
"Ada yang tahu bulan nya dmna?" tanya Sofian Williandi.

Komentar
Posting Komentar